“NASIONALISME DI RANAH MAYA” Oleh: Wander Howard Foundation

Nasionalisme di Tapal Batas Dunia Maya Menjelang 17 Agustusan tahun 2009, saya melihat seri artikel Nasionalisme di Tapal Batas di Koran KOMPAS. Artikel ini membahas apa arti nasionalisme bagi para penduduk di perbatasan wilayah NKRI. Tapi anehnya, tidak satu pun orang terpikir buat mengungkit soal Nasionalisme di dunia maya. Saya tidak bicara perseteruan Indonesia Malaysia…

Who are you? (1)

Aku berada di tempat yang gelap, lembab, dan kelam. Di sebuah lorong yang dipenuhi dengan pintu-pintu yang berjajar, seperti apartement aku menerka. Aku melangkah perlahan sambil mencoba membiasakan diri dengan kegelapan. Tiba-tiba saja ada cairan yang keluar dari bawah pintu salahsatu kamar. “AH!!” hampir saja aku terpeleset karena menginjak cairan tersebut. Cairan kental apa ini? pikirku….

Banyak Hal

Hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal.. hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal hal…

Kucing

Banyak bilang ku terlahir dengan sembilan nyawa Ku simpan satu untukmu kelak Supaya kita dapat selalu bersama Bermain bola-bola dan berkeliaran berdua Tetapi entah kenapa aku sekarang sendiri Tanpa ibu yang seharusnya mengasihi Ku panggil dia tanpa banyak kata Tapi jawaban tak kunjung tiba Kucing kecil di pinggiran kedinginan Hujan lebat mengguyur tempat tinggal Siapa…

Pantai

Sekumpulan pasir yang terhampar di pesisir pulau Berpadu indah dengan lautan dan angin yang bertiup Membuatku terpana Kau hempaskan pasir menyentuh kakiku, menghancurkan lamunan Berlari kecil mengitari pesisir, seperti bermain dengan sahabat Seakan waktu tak pernah usai Demi menghilangkan penat, kurela menghabiskan waktu bersamamu Ku ukir namaku, ku bentuk istana di bantaran pasirmu Tapi apa…

Kupu-kupu ditengah Kota

Udara terik panas menerpa berhembus kencang Bukan musim yang membuat angin ini terasa begitu hangat Tapi karena perkotaan begitu padat dengan polusi yang mengikat Mungkin tak akan ada kehidupan hutan yang akan bertahan disini Engkau menggeliat mencoba mencapai puncak Puncak dedaunan yang terdapat dipinggir jalan Tepat di persimpangan ditengah kota Kau beruntung masih dapat menemukan…

Demi Senja

Untukmu si Senja yang lembut. Aku mana mungkin bisa hidup tanpamu Senja. Sekian tahun bersama, baik suka maupun duka. Aku selalu tersenyum dibawahmu, menikmati pancaran sinar yang menenangkan setiap sore. Disini. Bersama angin. Bersama langit. Sungguh indahnya. Dimanapun aku berada, aku bisa melihatmu, selama hidupku. Aku hapal indahmu, bahkan ketika aku memejamkan mata.

Aku [Di]Temukan Kamu

Pena hitam menari indah di atas permadani meja tulis Kertas putih itu tergambar indah dengan kata yang terurai Kemana perginya burung pembawa kabar gembira Ketika kesedihan melanda relungnya hati bertahta duka Rindu yang semakin dalam membawa kegelapan dijiwa Dan cahaya menghindari wujud dari mimpi Lari mengejar bayangan sendiri berpijak Lelah menepi pikiran yang suram Terhenti…

Pluviophile

Aku mulai menghitung tiap rintik hujan yang turun. Aku suka dinginnya, suka suaranya ketika menyentuh tanah. Aku tak perlu payung untuk melindungi diriku dari air hujan yang bisa saja membuatku sakit. Dari dulu aku sering menerobos hujan,tapi semua baik-baik saja. Menyukai hujan tak rumit.

Terima kasih

Kita sudah melalui hari yang begitu panjang bersama-sama. Di sekitar mentari, senja, bahkan malam. Melewati banyak hal. Melakukan banyak hal. Semua rasa kita hadapi. Ya, satu kata untuk kita “tangguh”. Aku tahu kamu adalah seorang pangeran dari negri tersohor. Aku hanyalah permaisuri dari negri yang terpencil. Tapi aku senang ada diposisi ini. Aku sangat senang….

Pertemuan

Ku kembali bukan lagi diriku sendiri Tinggalkan semua kenangan suram dan senang Berdiri di tengah tanah tandus tanpa kehidupan Berdesir udara hangat menerpa kelam Ku kembali disini meratapi masa lalu Semua tak lagi indah tanpa berbagi Bangkit! Menjalani kehidupan baru Membuang semua perasaan sepi Kau datang mengulurkan tangan Penuh dengan luka dan darah yang menetes…

The Woman

“Maaf aku terlambat” Dengan sedikit membungkuk, perempuan itu meminta maaf kepada Evan yang sudah duduk di meja makan di sebuah restoran mewah di pusat kota. Terdapat 3 buah lilin yang bertanggar manis di tempatnya tepat di atas meja makan dimana pria itu menunggu. “Tidak apa kok. Aku juga baru datang” Evan tersenyum dan langsung berdiri untuk menggeser…